Senin, 24 Desember 2012



PERTUMBUHAN SAPI BALI  YANG DIGEMUKKAN DI LAHAN KERING DESA SANGGALANGIT KECAMATAN GEROKGAK BULELENG BALI

I Made Rai Yasa,  I.A.Parwati I. N. Adijaya,  dan  I K. Mahaputra
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bali


ABSTRAK

Penelitian tentang Pertumbuhan Sapi Bali  yang digemukkan di Lahan Kering  Desa Sanggalangit telah dilaksanakan dari bulan Februari sampai akhir Agustus 2006, bekerja sama dengan Kelompok Ternak Niki Sato Desa Sanggalangit, Kecamatan Gerokgak Buleleng-Bali. Penelitian disusun dalam rancangan Acak Kelompok dengan 2 perlakuan pakan. Yakni : P1 untuk kelompok sapi yang diberikan Pakan dasar hijauan segar dan kering secara ad libitum dengan tambahan pakan penguat berupa dedak padi sebanyak 2 kg/ekor; dan P2 dengan pakan seperti P1 namun di tambah feed aditif berupa probiotik Bio Cas 5 ml per ekor per hari. Masing-masing perlakuan menggunakan 15 ekor sapi  sebagai ulangan.  Sapi-sapi tersebut berumur antara 1,5 sampai 2 tahun dengan bobot badan awal  rata-rata 229 kg untuk P1 dan 227 kg untuk P2. Parameter yang diamati adalah  pertambahan bobot badan. Data dianalisis   dengan T- Test dan secara deskriptif untuk mengetahui keterkaitan pertumbuhan dengan musim kemarau. Hasil penelitian menunjukkan, sapi-sapi P2 pertambahan bobot badannya rata-rata 0,51 kg/ekor per hari sedangkan P1 rata-rata 0,43 kg dengan selisih 80 gram/ekor/hari dan secara statistik berbeda nyata (P<0,05). Pertambahan bobot badan harian untuk kedua kelompok perlakuan  mengalami penurunan dari bulan Juli seiring dengan penurunan kualitas pakan hijauan yang diberikan karena mulai terbatasnya pakan. Memperhatikan dampak positif dari penggunaan probiotik Bio Cas, penggunaannya layak dipertimbangkan untuk penggemukan sapi di lahan kering. Untuk menjaga pertambahan bobot badan sapi konsisten sepanjang penggemukan, sebaiknya penggemukan di lahan kering diawali pada bulan Desember  selanjutnya dipasarkan pada bulan Mei tahun berikutnya atau peningkatan volume pemberian pakan penguat disaat pakan mulai sulit.

Kata Kunci : penggemukan, sapi bali, lahan kering.
  
PENDAHULUAN

Kebutuhan pangan semakin meningkat seiring meningkatnya jumlah penduduk.  Di lain pihak  areal produktif untuk usahatani semakin  menyempit, karena  beralih fungsi akibat perkembangan sektor pariwisata, untuk pemukiman penduduk, industri, dan  lainnya. Keadaan ini  menyebabkan kedudukan lahan kering semakin penting, karena menjadi salah satu tumpuan  dan harapan untuk memenuhi kecukupan pangan. Pulau Bali dengan luas ± 5.632,86 km², 38,73% atau seluas 2.181,19 km²  merupakan lahan kering yang  sebagian besar tersebar di pulau Bali bagian timur dan bagian utara (Suprapto, dkk. 2000). Dengan luas tersebut (0,29% luas Indonesia) Bali pada tahun 1999 memiliki populasi sapi  sebanyak 526.013 ekor (Anonimous, 2000) dan telah menjadi 576.586 ekor atau meningkat 9,6% di tahun 2004 atau dengan kepadatan 102,36 ekor/km². Dengan  kepadatan tersebut, menempatkan Bali sebagai daerah dengan populasi ternak sapi terpadat di Indonesia (Anonimous, 2004).
Sapi Bali sampai saat ini masih merupakan komoditi unggulan bidang peternakan di Bali. Walaupun sebagai komoditi unggulan, sapi Bali memiliki banyak kelemahan yaitu pertumbuhan yang relatif lambat. Selain kelemahan tersebut sapi Bali memiliki kelebihan yang luar biasa dibandingkan dengan jenis sapi lainnya yaitu daya adaptasinya sangat baik dengan lingkungan pemeliharaanya (Darmadja, 1990).
Lahan marginal (sebutan lahan kering) merupakan  lahan yang miskin unsur hara, ketersediaan air dan curah hujan terbatas, solum tanahnya tipis dan tofografinya  berbukit-bukit sehingga produktivitasnya rendah (Suprapto, dkk. 1999). Dengan kondisi yang demikian ketersediaan pakan ternak pun terbatas. Dilaporkan pula bahwa petani pada lahan ini pada umumnya petani kecil  dengan tingkat perekonomian yang lemah dan   tingkat pendidikan yang rendah sehingga sangat berpengaruh terhadap cara berusahatani atau pun beternak (Suprapto, dkk. 1999).
Gunawan, dkk (1996) melaporkan bahwa usaha  penggemukan sapi potong memerlukan pakan dengan kwantitas yang cukup dengan  kualitas yang baik secara kontinyu. Pemberian konsentrat sebagai pakan penguat biasanya dilakukan terbatas oleh petani yang memiliki tingkat kemampuan ekonomi yang baik (Kusnadi, dkk. 1993).  Akibatnya secara umum produktivitas sapi potong yang dipelihara petani di pedesaan menjadi rendah. Menurut Saka (1990) dengan pola pemeliharaan secara tradisional, tambahan bobot badan sapi Bali rata-rata 280 gram/ekor/hari.
Desa Sanggalangit merupakan salah satu desa di Kecamatan Gerokgak yang berekosistem lahan kering dataran rendah beriklim kering sejak tahun 2003 telah berkembang kelompok penggemukan sapi.  Penggemukan biasanya dilakukan selama 8 bulan  dengan pakan tambahan berupa dedak padi dengan pakan  dasar berupa hijauan yang  ketersediannya sangat tergantung musim. Untuk mengetahui  pertumbuhan sapi penggemukan di lahan kering tersebut, maka dilakukan penelitian ini.


MATERI DAN METODE

Penelitian dilaksanakan selama 179 hari yaitu dari bulan  Februari sampai akhir Agustus 2006, bekerja sama dengan Kelompok Ternak Niki Sato Desa Sanggalangit, Kecamatan Gerokgak Buleleng-Bali. Penelitian disusun dalam rancangan Acak Kelompok dengan 2 perlakuan pakan, yakni : P1 untuk kelompok sapi yang diberikan pakan dasar hijauan segar dan kering secara ad libitum dengan tambahan pakan penguat berupa dedak padi sebanyak 2 kg/ekor; dan P2 dengan pakan seperti P1 namun di tambah feed aditif  berupa probiotik Bio Cas 5 ml per ekor per hari.  Probiotik  Bio-Cas merupakan cairan berwarna coklat hasil pengembangan BPTP Bali, yang mengandung multi mikroorganisme yang bersifat  proteolitik, lignolitik, selulolitik, dan lipolitik. Mikroorganisme ini  dilaporkan mampu menguraikan bahan organik kompleks dalam pakan menjadi lebih sederhana sehingga lebih mudah diserap oleh saluran pencernaan.
Sapi yang digemukkan berumur antara 1,5 sampai 2 tahun dengan bobot awal  rata-rata 229 kg untuk P1 dan 227 kg untuk P2. sapi-sapi tersebut dipelihara pada kandang permanen, dan pada awal penelitian semua ternak diberikan obat cacing yang mengandung oxfendazol. Hijauan yang diberikan berupa rumput lapangan dan rumput kering dikombinasi dengan hijauan legum seperti Lamtoro, Gamal dan lainnya. Pada saat puncak kekeringan diberikan hijauan lain seperti Gamelina, Intaran (mimba) dan sonokeling. Parameter yang diamati adalah  pertambahan bobot badan. Untuk mengetahui perkembangan bobot badan ternak, dilakukan penimbangan setiap bulan sekali menggunakan timbangan elektrik.  Data dianalisis dengan  t- test dan secara deskriptif.


HASIL DAN PEMBAHASAN

Bobot badan sapi yang digemukkan baik kelompok sapi P1 maupun P2 terus mengalami peningkatan. Laju pertambahan bobot badan sapi P2 lebih baik dibandingkan dengan P1, terbukti dari bobot akhir yang lebih tinggi yaitu rata-rata 318 kg, berbanding 305 kg meskipun bobot awal dari P1 lebih berat 2 kg yaitu 227 kg berbanding 229 kg (Grafik 1).
Penggunaan probiotik Bio Cas pada sapi-sapi P2, menyebabkan adanya selisih pertambahan bobot badan harian rata-rata 80 gram ekor/hari. Hasil ini sejalan dengan laporan Kariada, dkk (2002) dan Kariada, dkk. (2003) bahwa penggunaan probiotik Bio Cas dengan dosis 5 ml per ekor per hari untuk menggemukan sapi Bali memberikan  pertambahan berat badan harian rata-rata 100 gram per hari. Laporan ini juga sejalan dengan laporan Yasa, dkk. (2001), bahwa penggunaan probiotik Bio Cas pada induk sapi sebagai feed additif untuk flushing (pemberian pakan tambahan untuk induk bunting 2 bulan sebelum dan sesudah melahirkan) dapat meningkatkan berat lahir pedet jantan rata-rata 2 kg di atas  kontrol (18 kg vs 16 kg) demikian juga untuk pedet betina ( 17 kg vs 15kg).  Menurut Yasa, dkk (2004) pemberian probiotik Bio Cas 5 ml /ekor/hari  dapat meningkatkan kandungan eritrosit (sel darah merah),  Hemoglobin, leukosit (sel darah putih),  protein total darah,  dan nilai hematokrit induk sapi Bali sehingga berdampak positif terhadap pertumbuhan ternak.

Tabel 1.   Pertambahan Bobot Badan Harian Sapi-Sapi Yang Digemukkan di Kelompok Niki Sato, Desa Sanggalangit, Kec. Gerokgak, 2006
Perlakuan
Bobot awal (kg)
Bobot akhir (kg)
PBBH (gram)
P1
229NS
305
0,43
P2
227NS
318*
0,51*
Keterangan :
P1         :  Kelompok sapi yang diberikan  pakan tambahan 2 kg dedak padi per ekor per hari
P2         :  Kelompok sapi dengan pakan seperti P1, namun diberikan tambahan probiotik Bio Cas 5 ml/ekor/hari
PBBH   :  pertambahan bobot badan harian
NS        :  non significant
*           :  berbeda nyata (P<0,05)

Pertambahan bobot sapi untuk kedua perlakuan cukup baik pada bulan Maret sampai Juni, selanjutnya laju pertumbuhannya  mulai menurun  pada bulan Juli sampai Agustus. Kondisi ini seiring dengan menurunnya ketersediaan pakan khususnya untuk hijauan serta kurang baiknya kondisi lingkungan dengan rendahnya curah hujan pada saat itu (Tabel 1, Grafik 3).



Grafik 2. Pertambahan bobot badan harian sapi Bali yang digemukkan di Desa Sanggalangit, 2006. Sumber : Data Primer


Grafik 3.  Data Curah Hujan Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng selama 10 tahun (1999-2002). Sumber : Agung, S.M. 2006
Tabel  2. Keterkaitan Musim Dengan  Ketersediaan Pakan di Kecamatan. Gerokgak, Kabupaten Buleleng Bali, 2004..
Parameter
Bulan
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
Musim Hujan














Pakan sulit





































Sumber : Yasa, dkk. 2005

Menurut Yasa, dkk (2006), sapi-sapi di Desa Sanggalangit  mengalami lima bulan  krisis pakan yaitu  dari bulan Juli sampai  Nopember (Tabel 2). Pada bulan-bulan tersebut, sapi-sapi diberikan pakan seadanya dengan kualitas (kandungan gizi rendah) dan kwantitas terbatas. Pakan yang diberikan hampir 70% berupa pakan kering (hay) seperti limbah jagung, rumput gunung, jerami padi yang dibeli di desa lain, daun pisang kering dan pada puncak krisis ternak diberikan daun bambu. Untuk pakan segar, hijauan yang diberikan berupa daun gamal, lamtoro, gamelina, sonokeling, intaran (mimba), daun kelapa, daun asam, waru, batang pisang bahkan daun mangga juga diberikan (Tabel 3).
Jadi kecilnya  pertambahan bobot badan harian sapi-sapi tersebut  pada bulan-bulan Juli dan Agustus tidak terlepas dari ketersediaan pakan baik dari kualitas maupun kwantitasnya. Memperhatikan kondisi seperti itu, penggemukan sebaiknya diawali pada bulan Desember  selanjutnya dipasarkan pada bulan Mei tahun berikutnya. Strategi lain yang dapat dilakukan berupa peningkatan 1) volume pemberian pakan penguat, namun dengan perhitungan secara ekonomis terlebih dahulu; 2) memperbesar bobot badan awal sapi yang akan digemukkan, yakni paling tidak 300 kg supaya waktu pemeliharaan yang dibutuhkan untuk mencapai bobot potong menjadi lebih singkat (5 bulan); dan meningkatkan sumber pakan hijauan bermutu melalui penananam hijauan pakan bermutu tahan kering seperti lamtoro yang telah terbukti berproduksi sepanjang tahun.

Tabel 3. Keterkaitan Musim Dengan Jenis Pakan yang Tersedia di Desa Sanggalangit, 2006.
Uraian
Bulan
4
5
6
7
8
9
10
11
12
1
2
3
Musim Hujan/Kering
x
x





x
xx
xxx
xxx
xx
A.      Ketersediaan pakan Hijauan












1.         Rumput
xx
x
-
-
-
-
-
-
x
xx
xxx
xxx
2.         Gamal
xx
x
x
x
x
x
-
-
x
xx
xxx
xxx
3.         Lamtoro
xx
x
x
x
x
x
x
x
x
xx
xxx
xxx
4.         Gamelina
xx
x
x
x
x
x
x
x
x
xx
xxx
xxx
5.         Sonokeling
xx
x
x
x
x
x
x
x
x
xx
xxx
xxx
6.         Intaran
x
x
xx
xxx
xxx
xxx
xxx
xx
xx
x
x
x
B.       Pakan Kering












1.        Limbah jagung
-
-
-
-
x
xx
xx
xx
x
-
-
-
2.        Rumput gunung
-
-
-
-
x
xx
xx
xx
x
-
-
-
3.        Jerami Padi
-
-
-
-
x
xx
xx
xx
x
-
-
-
4.        Daun bambu
-
-
-
-
x
xx
xx
xx
x
-
-
-
5.        Kraras (daun pisang kering)
-
-
-
-
x
xx
xx
xx
x
-
-
-
C.       Pakan lain












1.        Daun kelapa
-
-
-
-
x
xx
xx
xx
x
-
-
-
2.        Daun asem
-
-
-
-
x
xx
xx
xx
x
-
-
-
3.        Daun mangga
-
-
-
-
x
xx
xx
xx
x
-
-
-
4.        Waru
-
-
-
-
x
xx
xx
xx
x
-
-
-
5.        Batang pisang
-
-
-
-
x
xx
xx
xx
x
-
-
-
Keterangan :
·          Jumlah x menunjukkan kwantitas
·          Sumber :  Yasa, dkk. (2006).

KESIMPULAN DAN SARAN

-         Pertambahan bobot badan harian sapi-sapi yang digemukkan di lahan kering Desa Sanggalangit tidak konsisten sepanjang tahun disebabkan ketersediaan hijauan baik dari segi kualitas maupun kwantitas tidak kontinyu sepanjang tahun karena pengaruh musim. Oleh karena itu 1) penggemukan sebaiknya diawali pada bulan Desember  selanjutnya dipasarkan pada bulan Mei tahun berikutnya, 2) volume pemberian pakan penguat perlu ditingkatkan disaat pakan mulai sulit namun dengan  perhitungan ekonomis 3) memperbesar bobot badan awal sapi yang akan digemukkan, yakni paling tidak 300 kg supaya waktu pemeliharaan yang dibutuhkan untuk mencapai bobot potong menjadi lebih singkat (5 bulan) dan 4) meningkatkan sumber pakan hijauan bermutu melalui penananam hijauan pakan bermutu tahan kering seperti lamtoro.
-         Sapi-sapi yang diberikan feed aditif  berupa probiotik Bio Cas pertambahan bobot badannya rata-rata 80 gram lebih tinggi dibandingkan kontrol, yaitu 0,51 kg berbanding 0,43 kg.


DAFTAR PUSTAKA

Agung, M.S. 2006. Konsep dan Strategi Penanganan Lahan Kering di Bali. Makalah disampaikan dalam Seminar Pengembangan Pertanian Lahan Kering Menuju Petani Sejahtera, Denpasar, 22 Juli 2006.
Anonimous. 2000.  Informasi Data Peternakan Propinsi Bali Tahun 1999. Dinas Peternakan Propinsi Bali. Denpasar
Anonimous. 2004.  Statistik Peternakan di Provinsi Bali Tahun 2004. Dinas Peternakan Propinsi Bali, Denpasar.
Gunawan., M.A. Yusron.,  Aryogi dan A. Rasyid. 1996. Peningkatan produktivitas pedet jantan sapi perah rakyat melalui penambahan pakan konsentrat. Prosiding Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner. Jilid 2. Puslitbangnak. Bogor.
Kariada, I.K., I.M. Londra dan I.N. Darmesta. 2002. Laporan Akhir Pengkajian Integrasi Ternak dengan Sayuran di Daerah Dataran Tinggi Kering Beriklim Basah. BPTP Bali Denpasar.
Kariada, I.K., I.M. Londra dan I.N. Darmesta. 2003. Laporan Akhir Pengkajian Integrasi Ternak dengan Sayuran di Daerah Dataran Tinggi Kering Beriklim Basah. BPTP Bali Denpasar.
Kusnadi, U., M. Sabrani., Wiloeto., S. Iskandar., D. Sugandi., Subiharta.., Nandang dan Wartiningsih. Hasil Penelitian Usahatani Ternak Terpadu di Dataran Tinggi Jawa Tengah. Balai Penelitian Ternak, Bogor.
Saka, I.K. 1990. Pemberian pakan dan pemeliharaan ternak kerja. Makalah dalam pertemuan Aplikasi Paket Teknologi Sapi Potong. BIP Bali, Denpasar 10-13 Desember 1990
Suprapto., Mahaputra., M.A. T. Sinaga., I.G.A. Sudaratmaja dan Sumartini. 1999. Laporan Akhir Pengkajian SUT Tanaman Pangan di Lahan Marginal. Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian Denpasar. Bali
Suprapto., I.N. Adijaya., I.K. Mahaputra dan I.M. Rai Yasa. 2000. Laporan Akhir Penelitian Sistem Usahatani Diversifikasi Lahan Marginal. IP2TP Denpasar. Bali
Yasa, I M. R.  2001. Pengkajian Integrasi Tanaman dan Ternak pada Lahan Kering Kabupaten Buleleng. Prosiding Seminar Nasional Pengembangan  Teknologi Pertanian  Dalam Upaya Optimalisasi  Potensi Wilayah  Mendukung Otonomi Daerah. 365-367.
Yasa, I.M.R., S. Guntoro dan I N. Adijaya. 2004. pengaruh pemberian probiotik biocas terhadap profil  darah induk sapi bali  di lahan kering Gerokgak Buleleng Bali.  Makalah disampaikan dalam Seminar Nasional Klinik Pertanian,  Manado, 8-9 Juni 2004.
Yasa, I.M.R., I.A. Parwati dan I K Mahaputra. 2004. Pola reproduksi induk sapi Bali di lahan kering dikaitkan dengan musim, ketersediaan pakan dan pemasarannya.  Prosiding Seminar Nasional Optimalisasi Teknologi Kreatif dan Peran Stakeholder dalam Percepatan Adopsi Inovasi Teknologi Pertanian, Denpasar 28 September 2005. Pusat Analisis Sosial  Ekonomi dan Kebijakan Pertanian. Bogor.
Yasa, I.M.R., I.N. Adijaya., I.K. Mahaputra., I.W. Trisnawati., P. Sugiarta., A.K.Wirawan dan A. Rachim. 2006. Laporan Participatory Rural Appraisal (PRA) Prima Tani di Desa Sanggalangit. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bali. Denpasar.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar